Latest Entries »

PUISI AHMADUN YOSI HERFANDA

 

Ahmadun Yosi Herfanda

 Image

 

DI BAWAH LANGIT MALAM

 

kucium kening bulan

dalam sentuhan dingin angin malam

ayat-ayat tuhan pun tak pernah bosan

memutar planet-planet dalam keseimbangan

 

langit yang membentang

menenggelamkanku ke jagat  dalam

kutemukan lagi ayat-ayat tuhan

inti segala kekuatan putaran

 

jagad yang menghampar

membawaku ke singgasana rahasia

pusat segala energi dan cahaya

membebaskan jiwa

dari penjara kefanaannya

 

kucium lagi kening bulan

engkau pun tersenyum

dalam penyerahan

 

Purworejo 1983        

    

 

NYANYIAN KEBANGKITAN

 

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

Di antara pahit-manisnya isi dunia

Akankah kau biarkan aku duduk berduka

Memandang saudaraku, bunda pertiwiku

Dipasung orang asing itu?

Mulutnya yang kelu

Tak mampu lagi menyebut namamu

 

Berabad-abad aku terlelap

Bagai laut kehilangan ombak

Atau burung-burung yang semula

Bebas di hutannya

Digiring ke sangkar-sangkar

Yang terkunci pintu-pintunya

Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya

 

Berikan suaramu, kemerdekaan

Darah dan degup jantungmu

Hanya kau yang kupilih

Di antara pahit-manisnya isi dunia

 

Orang asing itu berabad-abad

Memujamu di negerinya

Sementara di negeriku

Ia berikan belenggu-belenggu

Maka bangkitlah Sutomo

Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo

Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro

Bangkitlah semua dada yang terluka

“Bergenggam tanganlah dengan saudaramu

Eratkan genggaman itu atas namaku

Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.”

 

Suaramu sayup di udara

Membangunkanku

Dari mimpi siang yang celaka

 

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

Di antara pahit-manisnya isi dunia

Berikan degup jantungmu

Otot-otot dan derap langkahmu

Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu

Atau mendobraknya atas namamu

Terlalu pengap udara yang tak bertiup

Dari rahimmu, kemerdekaan

Jantungku hampir tumpas

Karena racunnya

 

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

Di antara pahit-manisnya isi dunia!

(Matahari yang kita tunggu

Akankah bersinar juga

Di langit kita?).

Mei  1985/2008

 

 

 

 

MONOLOG SEORANG VETERAN

    YANG TERCECER DARI ARSIP NEGARA

 

Bendera-bendera berkibar di udara

Dan, orang-orang berteriak ‘’telah bebas negeri kita”

Tapi aku tertatih sendiri

Di bawah patung kemerdekaan yang letih

Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi

 

Kau pasti tak mengenaliku lagi

Seperti dulu, ketika tubuhku terkapar penuh luka

Di sudut stasiun Jatinegara, setelah sebutir peluru

Menghajarku dalam penyerbuan itu

Dan negeri yang kacua mengubur

Sejarah dalam gundukan debu

 

Setengah abad lewat kita melangkah

Di tanah merdeka, sejak Soekarno-Hatta

Mengumumkan kebebasan negeri kita

Lantas kalian dirikan partai-partai

Juga kursi-kursi kekuasaan di atasnya

  

Gedung-gedung berjulangan

Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan

Jalan-jalan layang, mengembang bersama

Korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,

Yang membengkakkan perutmu sendiri

Sedang kemiskinan dan kebodohan

Tetap merebak di mana-mana

 

Dan, aku pun masih prajurit tanpa nama

Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran

Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan

Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman

Tanpa istri simpanan

     

Meskipun begitu, aku sedih juga

Mendengarmu makin terjerat hutang

Dan keinginan IMF yang makin menggencet

Kebijakan negara.

Karena itu, maaf, saat engkau

menyapaku, “Merdeka!”

Dengan rasa sembilu

Aku masih menjawab, “Belum!”

Jakarta, 1998-2008        

 

 

RESONANSI INDONESIA

 

bahagia saat kau kirim rindu

termanis dari lembut hatimu

jarak yang memisahkan kita

laut yang mengasuh hidup nakhoda

pulau-pulau yang menumbuhkan kita

permata zamrud di katulistiwa

kau dan aku

berjuta tubuh satu jiwa

 

kau semaikan benih-benih kasih

tertanam dari manis cintamu

tumbuh subur di ladang tropika

pohon pun berbuah apel dan semangka

kita petik bersama bagi rasa bersaudara

kau dan aku

     berjuta kata satu jiwa

 

      kau dan aku

      siapakah kau dan aku?

   jawa, cina, batak, arab, dayak

   sunda, madura, ambon, atau papua?

   ah, tanya itu tak penting lagi bagi kita

   : kau dan aku

    berjuta wajah satu jiwa

 

ya, apalah artinya jarak pemisah kita

apalah artinya rahim ibu yang berbeda?

jiwaku dan jiwamu, jiwa kita

tulus menyatu dalam genggaman

burung garuda

 

Jakarta, 1984/1999

 

 

RESONANSI BUAH APEL

 

buah apel yang kubelah dengan pisau sajak

tengadah di atas meja. Dan, dengan kerlingnya

mata pisau sajakku berkata, ”Lihatlah, ada puluhan

ekor ulat besar yang tidur dalam dagingnya!”

 

memandang buah apel itu aku seperti

memandang tanah airku. Daging putihnya

adalah kemakmuran yang lezat dan melimpah

sedang ulat-ulatnya adalah para pejabat

yang malas dan korup

 

tahu makna tatapanku pisau itu pun berkata,

”Kau lihat seekor ulat yang paling gemuk

di antara mereka? Dialah presidennya!”

 

buah apel dan ulat

ibarat negara dan koruptornya

ketika buah apel membusuk

ulat-ulat justru gemuk di dalamnya

Jakarta, 1999/2003

  

SAJAK MABUK REFORMASI

 

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi

dalam pusingan anggur reformasi

menggelepar ditindih bayang-bayang diri

seember tuak kebebasan mengguyurku

membantingku ke ujung kakimu

luka-luka kepalaku, luka-luka dadaku

luka-luka persaudaraanku

luka-luka hati nuraniku

     

aku mabuk lagi, terkaing-kaing

di comberan negeriku sendiri. peluru tentara

      menggasak-gasakku, pidato pejabat

      merobek-robek telingaku, penggusuran

      menohokku, korupsi memuntahiku

      katebelece meludahiku, suksesi

      mengentutiku, demonstrasi mengonaniku

      likuidasi memencretkanku, kemiskinan

      merobek-robek saku bajuku

 

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi

menggelinding dari borok ke barah

dari dukun ke setan, dari maling ke preman

dari anjing ke pecundang, dari tumbal

ke korban, dari krisis ke kerusuhan

dari bencana ke kemelaratan!

 

aku mabuk lagi, mana maling mana polisi

mana pahlawan mana pengkhianat, mana

pejuang mana penjilat, mana mandor

mana pejabat, mana putih mana hitam

mana babi mana sapi, mana pelacur

mana bidadari, mana perawan mana janda

mana tuhan mana hantu? semua nyaris seragam

begitu sulit kini kubedakan

 

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi!

berhari-hari, berbulan-bulan

tanpa matahari

            Jakarta, Mei 1998/2007

 

 

 

 

INDONESIA, AKU MASIH

    TETAP MENCINTAIMU

 

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu

Sungguh, cintaku suci dan murni padamu

Ingin selalu kukecup keningmu

Seperti kukecup kening istriku

Tapi mengapa air matamu

Masih menetes-netes juga

Dan rintihmu pilu kurasa?

 

Burung-burung bernyanyi menghiburmu

Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu

Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?

Apakah kau tangisi hutan-hutan

Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?

Apakah kau tangisi hutang-hutang negara

Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?

Apakah kau tangisi nasib rakyatmu

Yang makin tergencet kenaikan harga?

Atau kau sekadar merasa kecewa

Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika

Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,

Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?

 

Ah, apapun yang terjadi padamu

Indonesia, aku tetap mencintaimu

Ingin selalu kucium jemari tanganmu

Seperti kucium jemari tangan ibuku

Sungguh, aku tetap mencintaimu

Karena itulah, ketika orang-orang

Ramai-ramai membeli dolar amerika

Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah

Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!

      Jakarta, 1997/2008

 

 

 

 

SEMBAHYANG RUMPUTAN

 

Walau kau bungkam suara azan

Walau kau gusur rumah-rumah tuhan

Aku rumputan

Takkan berhenti sembahyang

: inna shalaati wa nusuki

  wa mahyaaya wa mamaati

 lillahi rabbil ‘alamin

 

topan menyapu luas padang

tubuhku bergoyang-goyang

tapi tetap teguh dalam sembahyang

akarku yang mengurat di bumi

tak berhenti mengucap shalawat nabi

: allahumma shalli ‘ala muhammad

  ya rabbi shalli ‘alaihi wa sallim

 

sembahyangku sembahyang rumputan

sembahyang penyerahan jiwa dan badan

yang rindu berbaring di pangkuan tuhan

sembahyangku sembahyang rumputan

sembahyang penyerahan habis-habisan

 

Walau kau tebang aku

Akan tumbuh sebagai rumput baru

Walau kau bakar daun-daunku

Akan bersemi melebihi dulu

 

Aku rumputan

Kekasih tuhan

Di kota-kota disingkirkan

Alam memeliharaku

Subur di hutan-hutan

Aku rumputan

Tak pernah lupa sembahyang

: sesungguhnya shalatku dan ibadahku

  hidupku dan matiku hanyalah

  bagi Allah, tuhan sekalian alam

 

Pada kambing dan kerbau

daun-daun hijau kupersembahkan

pada tanah akar kupertahankan

agar tak kehilangan asal keberadaan

di bumi terendah aku berada

tapi zikirku menggema

menggetarkan jagat raya

: la ilaaha illallah

   muhammadar rasulullah

 

Aku rumputan

kekasih tuhan

seluruh gerakku

adalah sembahyang

 

Yogyakarta, 1992

 

 

 

 

CIUMAN PERTAMA

UNTUK TUHAN

 

Merendehkan diri di bawah telapak kaki

Dalam tahajud paling putih dan sunyi, akhirnya

Sampai juga aku mencium Tuhan. Mungkin kaki atau telapak

Tangannya – tapi aku lebih ingin mengecup dahinya

Duhai, hangatnya sampai ke ulu jiwa.

 

Inilah ciuman pertamaku, setelah berabad-abad

Gagal meraihnya dengan beribu rakaat dan dahaga

Tiada kecerdasan kata-kata yang bisa menjangkaunya

Tak juga doa dalam tipu daya air mata — Duhai Kekasih,

Raihlah jiwaku dalam hangatnya Cinta

 

Bertahun-tahun aku merindu, bagai Rabiah

Tiada lain kecuali merindu Engkau. Duhai Kekasih,

Tenggelamkan kini aku ke dalam cahayamu

Jakarta, Agustus 2003

 

 

 

 

CATATAN DINI HARI

: labuhan bilik, riau

 

Debur ombak dan goyang perahu

Bermain sendiri dalam sepi

Semua yang hidup tertidur

Melipat diri dalam mimpi

 

Bintang berkaca dalam sunyi

Sebait bulan yang menemaniku

Pun hendak undur diri

 

Bersama angin dini hari

Kucoba untuk bernyanyi

Mengirim rindu termanis

Sebelum bunuh diri

 

Bulan pun pergi

Dan perahu nelayan

Tak pernah kembali

Rokan Hilir, Maret 2007

 

 

 

 

 

CATATAN SENJA

DI JENDELA BUS KOTA

 

Selalu saja berkelebat bayangmu

Di antara kesiur angin, kepul asap dan debu

Tak ada bau parfum yang tersisa

Tak pula patahan helai rambutmu

Tapi di pojok jendela bus kota

Masih mekar juga senyum mawarmu

 

Kutahu, duniaku sekotor debu

Sehina ketombe yang sesekali mengusam

Pada kilau rambutmu

Tapi pada jantung sekecil debu

Ingin kubingkai luas cakrawala

Bagi kerling matamu

 

Pernahkah kau rasa juga

Semua yang kurindu?

Ah, kutahu, kutahu, ingatan itu

Telah terhapus jadwal rendesvous

Yang tak terjangkau sisa usiaku

Jakarta, Februari 2007

 

 

 

 

CATATAN SENJA

DI NEGERI KOTA

:  singapura

 

senja rebah di atap tampenis plaza

langit  mengatup, mendekap negeri kota

dalam remang cahaya. gerimis jatuh

dan kau tiba-tiba berkata,

 

— bergegaslah, hai, pengembara.

saat pemberangkatan segera tiba, ke negeri jauh

tempat sejarah melintas dan bermula.

 

dalam tergesa, aku jadi lupa

memungut dua helai rambutmu

yang tersisa di lipatan jendela plaza

(dengan mulut bau pizza, tadi sempat

kukecup keningmu di balik temboknya)

 

tak kuduga, harum parfummu terbawa juga

melintas benua, ke pelataran ayasophia

tapi, siapa aku mesti memanggilmu nanti

ketika langkahku sampai ke negerimu lagi

mei hwa, clara, atau aisah saja?

 

dalam dirimu, tionghoa, melayu, dan eropa

menyatu jadi bangsa yang begitu

menghargai makna kerja

Singapura, 1997/1999

 

 

 

 

 

DOA RINAI HUJAN

 

rintik hujan itulah

yang senantiasa menyampaikan

kasihmu padaku, dan ika-ikan

selalu mendoakan keselamatanku

jika kau tanya makna goyangku

goyangku zikir tersempurna

di antara para kekasih jiwa

angin mengusap bening air telaga

mengazaniku sujud ke pangkuannya

 

burung-burung itulah

yang selalu menyampaikan

salamku padamu, ketika angin senja

mengusap suntuk zikirku

jika kau tanya agamaku

agamaku agama keselamatan

jika kau tanya makna imanku

imanku iman kepasrahan

hidupku mengakar di jantung tuhan

sukma menyala menyibak kegelapan

 

pandanglah putik bungaku

nur muhammad mekar sepenuh jiwa

pandanglah daun-daunku

jari-jari tahiyat terucap

tiap akhir persembahan

zikirku zikir kemanunggalan

diri lebur ke dalam tuhan

Jakarta, 1998/2003

 

 

 

 

 

 

REINKARNASI

 

kukembalikan dagingku pada ikan

kuserahkan darahku pada kerang

makanlah milikku, ambil seluruhku

kukembalikan tulangku pada tripang

 

jika aku mati

hanya tinggal tanah

jiwaku membumbung

ke kekosongan

 

bertahun-tahun aku mengail

berhutang nyawa pada ikan

berabad-abad aku minum

berhutang hidup pada laut

berwindu-windu aku berlari

berhutang api pada matahari

tiba saatnya nanti kukembalikan

semua hutangku pada mereka

 

kukembalikan jasadku pada tanah

sukmaku kembali ke tiada

: zat pemilik segalanya!

Jakarta, 1992

 

 

 

 

 

AYAT-AYAT ALAM

 

berabad-abad wajah tuhan bertaburan

jadi ayat-ayat alam yang berserak pada batu-batu

tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda

berabad-abad wajah tuhan bertaburan

dalam serpihan cinta sekaligus sengketa

 

berabad-abad pula adam gelisah

mencoba menyatukan wajah tuhan

dalam gambaran seutuhnya. namun

selalu sia-sia ia. sebab, tuhan lebih suka

hadir dalam keelokan yang beraneka

 

pada keelokan pohon dan keindahan batu

pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung

pada wajah suci seorang bayi dan hangat matahari

dan pada wajah manis seorang istri

tuhan hadir dalam senyum abadi

 

berabad-abad wajah tuhan bertebaran

pada ayat-ayat alam yang selalu

menemukan tafsir sendiri

Jakarta, 1995/2007

 

 

 

 

JALAN RINDU

 

Di jalan manakah engkau kini menunggu

Kekasih. Begitu panjang jalan kutempuh

Tapi, tak sampai-sampai juga padamu

 

Berapa abad lagi aku mesti

Menahan nyeri hati tanpamu

Kutanggung sendiri berwindu rindu

Kutahan sendiri sepi tanpamu

 

Di manakah kini engkau menunggu

Kekasih. Setelah kutinggal khianat tanpamu

Tak tahu lagi kini alamat bagi rinduku

Masih terbukakah pintu untuk kembali

Ke satu cinta hanya padamu?

Jakarta, 2007

 

 

 

 

SAJAK EMBUN

 

hanya karena cinta embun menetes

dari ujung bulu matamu, membasahi

rumput dan daun-daun, lalu meresap

ke jantungku. cacing-cacing pun berzikir

padamu, mensyukuri kodratnya tiap waktu

 

siapa yang menolak bersujud padamu

yang tak bersyukur karena karuniamu?

barangkali hanya orang-orang congkak itu

orang-orang yang berjalan dengan kepala

mendongak ke langit sambil melirik

dengan cibiran harimau

 

hanya karena cinta hujan menetes

dari sudut pelupuk matamu, membasahi rambutku

menyusup ke pori-pori tubuh, syaraf dan nadi

menghijaukan kembali taman hatiku

burung-burungpun bernyanyi karenaku

berzikir dan bersujud padamu

— ya allah, ampuni adaku padamu!

Yogyakarta, 1990/2007

 

 

 

 

NYANYIAN SENJA

SEORANG PENCINTA

 

jika aku mati, luluhlah bagai air

menyusup tanah dan batu-batu

menumbuhkan pohonan di tamanmu

putik bunga pun bertemu benihku

membuahkan cintamu

 

jika kau haus, minumlah jiwaku

jika tubuhmu berdaki

mandilah dalam kasihku

ikan-ikan bahagia dalam asuhanku

kafilah gembira menemuku

 

tiadalah arti hidup jika sekadar hidup

tiadalah arti mati jika sekadar mati

jika hidup tiada sebatas hidup

jika mati pun tiada sebatas mati

(jika tak takut hidup jiwa pun tak takut mati

karena dalam mati jiwa menemu hidup sejati)

 

jika aku mati, luluhlah bagai air

menyusup akar belukar dan pohonan

katak-katak bahagia dalam sejukku

teratai pun tersenyum

dalam ayunan jiwaku

 

tiada makna hidup

jika tiada menghidupi

tiada nikmat hidup

jika tiada memberi arti

— jika engkau pelaut

layarkan perahumu

pada keluasan hatiku!

Yogyakarta, 1984/2007

 

PUISI-PUISI CHAIRIL ANWAR (Angkatan 1945-an)

 

1. PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949

2. MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
– jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957

3. KRAWANG-BEKASI 

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

4. DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

5. PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954

6. AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

7. PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

8. HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


9. DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943


10. SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

11. SENJA DI PELABUHAN KECIL
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

12. CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

13.MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

14. YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

15. DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Taufik Ismail

 

 

 

Puisi 1

KARANGAN BUNGA
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi

Karya : Taufiq Ismail, Tirani, 1966

Puisi 2

 SALEMBA
Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak perlahan
Menuju pemakaman
Siang ini

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani

Taufiq Ismail [Tirani dan Benteng], 1966

Puisi 3

 BENDERA

Mereka yang berpakaian hitam
Telah berhenti di depan sebuah rumah
Yang mengibarkan bendera duka
Dan masuk dengan paksa

Mereka yang berpakaian hitam
Telah menurunkan bendera itu
Di hadapan seorang ibu yang tua
”Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”

Mereka yang berpakaian hitam
Dengan hati yang kelam
Telah meninggalkan rumah itu
Tergesa-gesa

Kemudian ibu tua itu
Perlahan menaikkan kembali
Bendera yang duka
Ke tiang yang duka

1966

Puisi 4

 HORISON

Kami tidak bisa dibubarkan
Apalagi dicoba dihalaukan
Dari gelanggang ini

Karena ke kemah kami
Sejarah sedang singgah
Dan mengulurkan tangannya yang ramah

tidak ada lagi sekarang waktu
Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu
Karena jalan masih jauh
Karena Arif telah gugur
Dan luka-luka duapuluh satu

1966

Puisi 5

 KITA ADALAH PEMILIK SYAH REPUBLIK INI

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hanyut

Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran:
“Duli Tuanku”?

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang ditepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka
Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus

dari: Tirani dan benteng – taufik ismail

Puisi 6

 DOA

Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga
Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin.

1966

Puisi 7

 DARI SEORANG IBU DEMONSTRAN

bu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada
Atau gas airmata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian
Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(Ibu itu menyeka sudut-matanya)

Tetapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(Ibu itu tersedu sesaat)
Ibu relakan
Tapi jangan disaat terakhir
Kauteriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walaupun betapa zalimnya
Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah
Diatas bumi kita ini
Dengan menegakkan Keadilan
Dan kebenaran
Tanpa dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta Rasul kita yang tercinta

Pergilah pergi
Iwa, Ida dan Hadi
Pergilah pergi
Pagi ini

(Mereka telah berpamitan dengan ibu yang tua. Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka, dan berangkatlah mereka bertiga, tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

Puisi 8

 SEORANG TUKANG RAMBUTAN KEPADA ISTRINYA

tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengatar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas bukan main
Terbakar mukanya diatas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
memang sudah rejeki mereka
Mereka berteriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
Dan memyoraki saja. Betul bu, menyoraki saja
‘Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!’
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saja
‘Hidup rakyat!’ teriaknya
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
‘Hidup pak rambutan!’ sorak mereka
‘Terima kasih pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?’
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
‘Doakan perjuangan kami, pak!’
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima-kasihnya
‘Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!’
Saya tersedu, bu. Belum pernah seumur hidup
Orang berterimakasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita”.

Puisi 9

 KEMIS PAGI

Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran
Dan menaiki kereta-kereta kencana
Dan menggunakan materai kerajaan
Dengan suara lantang memperatas-namakan
Kawula dukana yang berpuluh-juta

Hari ini kita serahkan mereka
Untuk digantung ditiang Keadilan
Penyebar bisa fitna dan dusta durjana
Bertahun-tahun lamanya.

Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa
Membeli benda-benda tanpa-harga dimanca-negara
Dan memperoleh uang emas beratus juta
Bagi diri sendiri, dibank-bank luar negeri
Merekalah penganjur zina secara terbuka
Dan menistakan kehormatan wanita, kaum dari ibu kita

Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
Kebanyakan anak-anak muda berumur belasan
Yang berangkat dari rumah, pagi tanpa sarapan
Telah kita naiki gedung-gedung itu
Mereka semua pucat, tiada lagi berdaya
Seorang ketika digiring, tersedu
Membuka dirisendiri tanda kebesaran dipundaknya
Dan berjalan perlahan dengan lemahnya

dari: Benteng

Puisi 10 BUKIT BIRU, BUKIT KELU

Adalah hujan dalam kabut yang ungu
Turun sepanjang gunung dan bukit biru
Ketika kota cahay dan di mana bertemu
Awan putih yang menghinggapi cemaraku

Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
Ketika kota tak bicara dan terpaku
Gunung api dan hama di ladang-ladangku

Lereng-lereng senja
Pernah menyinar merah kesumba
Padang hilalang dan bukit membatu
Tanah airku

1965

Puisi 11

 BENTENG

Sesudah siang panas yang meletihkan
Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas
Dan kita kembali ke karnpus ini berlindung
Bersandar dan berbaring, ada yang merenung

Di lantai bungkus nasi bertebaran
Dari para dermawan tidak dikenal
Kulit duku dan pecahan kulit rambutan
Lewatlah di samping Kontingen Bandung
Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana
Semuanya kumal, semuanya tak bicara
Tapi kita tldak akan terpatahkan
Oleh seribu senjata dari seribu tiran

Tak sempat lagi kita pikirkan
Keperluan-keperluan kecil seharian
Studi, kamar-tumpangan dan percintaan
Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam
Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.

Puisi 12

PENGKHIANATAN ITU TERJADI PADA TANGGAL 9 MARET

Pengkhianatan itu telah terjadi
Pengkhlanatan itu terjadi pada tanggal 9 Maret
Ada manager-manager politik
Ada despot yang lalim
Ada ruang sidang dalam istana
Ada hulubalang
Serta senjata-senjata

Senjata imajiner telah dibidikkan ke kepala mereka tapi la la la
di sana tak ada kepala
tapi hu hu hu “
tak ada kepala di atas bahu
Adalah tempolong ludah
Sipoa kantor dagang
Keranjang sampah
Melayang layang

Ada pernyataan otomatik
Ada penjara dan maut imajiner
Generasi yang kocak
Usahawan-usahawan politik yang kocak…
Ruang sidang dalam istana
La la la
tempolong ludah tak berkepala
Hu hu hu
keranjang sampah di atas bahu
Angin menerbangkan kertas-kertas statemen Terbang
Melayang layang.

1966

Puisi 13

 MALAM SABTU

Berjagalah terus
Segala kemungkinan bisa terjadi
Malam ini

Maukah kita dikutuk anak-cucu
Menjelang akhir abad ini
Karena kita kini berserah diri?
Tidak. Tidak bisa

Tujuh korban telah jatuh. Dibunuh
Ada pula mayat adik-adik kita yang dicuri
Dipaksa untuk tidak dimakamkan semestinya
Apakah kita hanya akan bernafas panjang Dan seperti biasa: sabar mengurut dada?
Tidak. Tidak bisa

Dengarkan. Dengarkanlah di luar itu
Suara doa berjuta-juta
Rakyat yang resah dan menanti
Mereka telah menanti lama sekali
Menderita dalam nyeri
Mereka sedang berdoa malam ini
Dengar. Dengarlah hati-hati.

1966

Puisi 14

SILHUET

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang lelah
Angin jalanan yang panjang
Tak ada rumah. KIta tak berumah
Kita hanya bayang-bayang

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang letih
Di atas jasad yang pedih
Kita lapar. Kita amat lapar
Bayang-bayang yang lapar

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang sepi
Sehabis pawai genderang
Angin jalanan yang panjang
Menyusup-nyusup
Menusuk-nusuk
Bayang-bayang berjuta
Berjuta bayang-bayang

Di bawah bayangan pilar
Di bawah bayangan emas
Berjuta bayang-bayang
Menangisi gerimis
Menangisi gunung api
Kabut yang ungu
Membelai perlahan
Hutan-hutan
Di selatan.

Juli 1965

Puisi 15

DARI CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

Inilah peperangan
Tanpa jenderal, tanpa senapan
Pada hari-hari yang mendung
Bahkan tanpa harapan

Di sinilah keberanian diuji
Kebenaran dicoba dihancurkn
Pada hari-hari berkabung
Di depan menghadang ribuan lawan

1966
(Tirani dan Benteng,)

Puisi 16

 ODA BAGI SEORANG SUPIR TRUK

Sebuah truk lama
Dengan supir bersahaja
Telah beruban dan agak bungkuk
Di atas stimya tertidur
Di tepi jalan yang sepi
Di suatu senja musim ini

Dalam tidumya ia bermimpi
Jalanan telah rata. Ditempuhnya
Dengan sebuah truk baru
Dengan klakson yang bisa berlagu
Dan di sepanjang jalanan
Beribu anak-anak demonstran
Tersenyum padanya, mengelu-elukan
“Hiduplah bapak supir yang tua
Yang dulu berjuang bersama kami
Selama demonstrasi!”

Di tepi sebuah jalan di ibukota
Ketika udara panas, di suatu senja
Seorang supir lusuh dengan truk yang tua
Duduk sendiri terkantuk-kantuk Semakin letih, semakin bungkuk.

1966

Puisi 17

Syair Orang Lapar

Lapar menyerang desaku

Kentang dipanggang kemarau

Surat orang kampungku

Kuguratkan kertas

Risau

Lapar lautan pidato

Ranah dipanggang kemarau

Ketika berduyun mengemis

Kesinikan hatimu

Kuiris

Lapar di Gunungkidul

Mayat dipanggang kemarau

Berjajar masuk kubur

Kauulang jua

Kalau

1964

Tirani dan Benteng

Puisi 18

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah pergi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’

Berikara setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

1966

Sumber: Tirani dan Benteng

Puisi 19

SURAT INI ADALAH SEBUAH SAJAK TERBUKA

Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Ditulis pada sebuah sore yang biasa. Oleh
Seorang warganegara biasa
Dari republik ini

Surat ini ditujukan kepada
Penguasa-penguasa negeri ini. Mungkin dia
Bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.
Barangkali dia Ketua MPRS
Taruhlah dia anggota DPR
Atau pemilik sebuah perusahaan politik
(bernama partai)
Mungkin dia Mayor, Camat atau Jaksa
Atau Menteri. Apa sajalah namanya
Malahan mungkin dia saudara sendiri

Jika ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah murahnya? Agaknya
Setiap bayi dilahirkan di Indonesia
Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya
Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama
Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya
Di kamar bersalin
Dan seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin
Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini
Ketika itu tak seorangpun tahu

Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian
Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri
Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi
Serta pajak kita semua
Di jalan raya.di depan kampus atau di mana saja
Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang
Melahirkannya. Jauh dari ayahnya
Yang juga mungkin sudah tiada
Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya
Darah telah mengantarkannya ke dunia
Darah kasih sayang
Darah lalu melepasnya dari dunia
Darah kebencian

Yang ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah gampangnya?
Apakah mesti pembunuhan itu penyelesaian
Begitu benarkah murahnya? Mungkin sebuah
Nama lebih penting
Disiplin tegang dan kering
Mungkin pengabdian kepada negara asing
Lebih penting
Mungkin

Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Maafkan para studen sastra. Saya telah

Menggunakan bahasa terlalu biasa
Untuk puisi ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi
Maalkan saya menggunakan bahasa terlalu biasa
Karena pembunuhan-pembunuhan di negeri inipun
Nampaknya juga sudah mulai terlalu biasa
Kita tak bisa membiarkannya lebih lama)

Kemudian kita dipenuhi pertanyaan
Benarkah nyawa begitu murah harganya?
Untuk suatu penyelesaian
Benarkah harga-diri manusia kita
Benarkah kemanusiaan kita
Begitu murah untuk umpan sebuah pidato
Sebuah ambisi
Sebuah ideologi
Sebuah coretan sejarah
Benarkah?

1965

Puisi 20

MALAM SABTU

Berjagalah terus
Segala kemungkinan bisa terjadi
Malam ini

Maukah kita dikutuk anak-cucu
Menjelang akhir abad ini
Karena kita kini berserah diri?
Tidak. Tidak bisa

Tujuh korban telah jatuh. Dibunuh
Ada pula mayat adik-adik kita yang dicuri
Dipaksa untuk tidak dimakamkan semestinya
Apakah kita hanya akan bernafas panjang Dan seperti biasa: sabar mengurut dada?
Tidak. Tidak bisa

Dengarkan. Dengarkanlah di luar itu
Suara doa berjuta-juta
Rakyat yang resah dan menanti
Mereka telah menanti lama sekali
Menderita dalam nyeri
Mereka sedang berdoa malam ini
Dengar. Dengarlah hati-hati.

1966

Puisi 21

RENDEZ-VOUS

Sejarah telah singgah
Ke kemah kami
Ia menegur sangat ramah
Dan mengajak kami pergi

“Saya sudah mengetuk-ngetuk
Pintu yang lain,”
Katanya
‘Tapi amat heran
Mereka berkali-kali menolakku
Di ambang pintu.”

Klni kami beratus-ribu
Mengiringkan langkah Sejarah
Dalam langkah yang seru
Dan semakin cepat
Semakin dahsyat
Menderu-deru
Dalam angin berputar
Badai peluru
Topan bukit batu!

196

Puisi 22

BENDERA LASKAR

Kali pertama, di halaman kampus, pagi itu
Telah berkibar bendera laskar
Berkibar putih bagai mega
Dengan garis-garis yang merah
Karena telah dibayar dengan darah

Dia telah mendengar teriakan kita
Sepanjang jalan-jalan raya
Di atas truk tanpa tenda
Di atas jip, di depan pawai-pawai semua
Dia selalu mendahului kita
Dalam setiap gerakan
Kepadanya berbagi nestapa kita
Duka setengah tiang
Duka sejarah rnanusia
Yang telah lama dihinakan
Dan dimelaratkan

Di depan markas, berkibar bendera laskar
Kami semua melambaimu
Hai kawan dan lambang kami yang setia
Lambailah sejarah dari atas sana
Buat kami satu laskar
Buat generasi yang kukuh dan kekar.

1966

Puisi 23

PERSETUJUAN

Momentum telah dicapai. Kita
Dalam estafet amat panjang
Menyebar benih ini di bumi
Telah sama berteguh hati

Adikku Kappi, engkau sangat muda
Mari kita berpacu dengan sejarah
Dan kini engkau di muka

1966

Puisi 24

LA STRADA, ATAU JALAN TERPANGGANG INI

Kini anak-anak itu telah berpawai pula
Dipanggang panas matahari ibukota
Setiap lewat depan kampus berpagar senjata
Mereka berteriak dengan suara tinggi
“Hidup kakak-kakak kami!”

Mereka telah direlakan ibu bapa
Warganegara biasa negeri ini
Yang melepas dengan doa
Setiap pagi

Kaki-kaki kecil yang tak kenal lelah
Kini telah melangkahkan sejarah.

1966

Puisi 25

REFLEKSI SEORANG PEJUANG TUA

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan
Setelah mereka menyimak deru sejarah
Dalam regu perkasa mulallah melangkah
Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dari kalbu yang murni
Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali dua puluh tahun yang lalu

Mahasiswa telah meninggalkan ruang-kuliahnya
Pelajar muda berlarian ke jalan-jalan raya
Mereka kembali menyeru-nyeru
Nama kau, Kemerdekaan
Seperti dua puluh tahun yang lalu

Spiral sejarah telah mengantarkan kita
Pada titik ini
Tak ada seorang pun tiran
Sanggup di tengah jalan mengangkat tangan
Danberseru: Berhenti!

Tidak ada. Dan kalau pun ada
Tidak bisa

Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dimulai dari sunyi
Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya Kecuali duapuluh tahun yang lalu.

1966

SEMERU MOUNT

KUMPULAN KATA BIJAK TENTANG KEGAGALAN

Kesuksesan dan kegagalan bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan. Semua orang ingin sukses, namun sayangnya tidak semua orang berani membayar harganya dengan kegagalan.

Kita semua pernah gagal dalam hidup ini. Namun apa maknanya? Perbedaan utama antara orang yang benar-benar sukses dan gagal adalah sikap mereka menghadapi kegagalannya. Bagaimana sebenarnya sikap kita menghadapi kegagalan?

Inilah 10 kata bijak dari para tokoh tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi kegagalan :

1. “Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan.”
— John F. Kennedy. —

2. “Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi.”
— Orison Swett Marden —

3. “Kebanggan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali ketika kita jatuh.”
— Confusius —

4. “Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.”
— Thomas Alva Edison —

5. “Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir.”
— W.A. Nance —

6. “Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.”
— Winston Chuchill —

7. “Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras, dan mau belajar dari kegagalan.”
— General Colin Powell —

8. “Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua, yaitu mereka yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak pernah memikirkannya.”
— John Charles Salak —

9. “Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan; tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi apa-apa.”
— Denis Waitley —

10. “Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untk memulai lagi dengan lebih cerdik.”
— Henry Ford —

Jelas sudah bahwa tidak ada orang yang gagal namun yang ada adalah orang yang berpikir dirinya gagal. Gagal bukanlah satu kesalahan, kegagalan hanyalah sebuah proses menuju kesuksesan yang lebih besar. Sukses untuk kita semua!

Sumber :
eocommunity.com

Tarian Mimpi
(Cerpen Anak-anak)
Oleh Dwi Nurcahyo, S.Pd

Ini hari pertamaku di sekolah yang baru. Aku siswi pindahan dari sebuah sekolah di Padang. Sekolahku hancur karena gempa. Mama memilih untuk pindah ke Jakarta. Aku berharap hari ini menjadi hari yang menyenangkan.
“Hai, kamu anak baru ya?”, tanya dua anak perempuan mengagetkanku. “Iya, namaku Lisa, siapa nama kalian berdua?” tanyaku. “Panggil aku Neng saja dan ini Alin”
Setelah perkenalan itu, aku banyak bertukar cerita dengan Neng dan Alin. Ternyata mereka berdua mempunyai hobi yang sama denganku. Neng dan Alin terlihat sangat bahagia mendengar hobiku menari.
“Wah kita akan mempunyai teman senasib” tegas Neng. “Ya benar, semoga kamu betah selalu diremehkan di sekolah ini” tambah Alin. Aku semakin tidak mengerti dengan pernyataan kedua temanku itu. Namun aku tidak sempat menanyakannya karena bel sekolah telah berbunyi.
Di kelas aku terlihat sangat canggung. Untung saja aku sudah mengenal Alin dan Neng. Tak berapa lama seorang guru datang. Ini pasti Pak Dudu yang baru diceritakan Alin tadi.
“Anak-anak, hari ini kita punya teman baru, pindahan dari sekolah di daerah Padang. Lisa silahkan perkenalkan diri kamu di depan kelas” kata Pak Dudu. Aku kemudian melangkah agak kaku. Jantungku berdebar cepat. Keringatku mulai terasa bercucuran
“Lisa silahkan perkenalkan nama, hobi, dan moto hidupmu” tegas guru baruku itu.
Aku coba menghela nafas dan coba tegar. “Selamat pagi teman-teman. Namaku Lisa Pradana, hobiku adalah menari Piring”
Belum sempat aku menyebutkan moto hidupku, namun hampir semua teman-temanku di kelas menertawakanku. Kecuali Alin dan Neng. Aku mulai bertanya-tanya. Apakah ada pernyataan aneh yang tadi kuucapkan.
“Hei Lisa, jauh-jauh kamu pindah sekolah, eh hanya punya hobi kampungan” jawab Mona, ketua kelas di kelasku. Nyaliku seketika ciut. Namun Pak Dudu tetap menyuruhku menjelaskan moto hidupku. Aku coba kembali tegar.
“Moto hidupku adalah capailah mimpi dan cita-cita dengan berusaha keras dan berdoa” kataku. Suasana di kelas tetap ramai dengan tawa. Hari itu menjadi ujian bagiku
Setelah jam sekolah berakhir, aku bertanya banyak tentang sekolah baruku itu. Ternyata di sekolah ini ekstrakurikuler favorit adalah drumband dan modern dance. Kedua ekstrakurikuler itu sering memenangkan lomba. Tari tradisional yang akan kupilih sangat jarang peminatnya, hanya Alin dan Neng. Namun Alin dan Neng tetap semangat berlatih agar bisa membanggakan sekolah. Aku pun pulang dengan semangat dari perkataan kedua temanku itu.
Waktu terus berjalan. Tidak terasa enam bulan sudah aku menimba ilmu di sekolah baruku. Alin dan Neng pun sudah menjadi sahabat terdekat. Kami selalu menyempatkan waktu berlatih menari bersama.
“Aku akan membanggakan kota Jakartaku dengan Tari Topeng ini” tegas Alin saat berlatih. “Aku akan membanggakan masyarakat Jawa Barat, khususnya daerah Bandung dengan Tari Jaipong ini” kata Neng tidak kalah semangat. Aku pun tidak mau kalah, “Dengan Tari Piring ini aku akan bangga jadi orang Padang”.
Setelah latihan kami beristirahat sambil berbagi cerita. Alin menceritakan mimpinya yang sangat indah. Ia bermimpi menari Topeng di depan menara Pizza Italia. Sedangkan Neng bermimpi sangat unik dan cukup lucu. Ia bermimpi mengajari orang-orang Jepang menari Jaipong. Mimpi mereka terjadi karena doa yang mereka ucapkan sebelum tidur. Mulai sekarang, aku pun akan selalu berdoa sebelum tidur.
“Haha, dasar anak-anak kampung. Bermimpi terlalu berlebihan. Modern dance dan drum band tetap akan menjadi favorit di sekolah ini” sahut Mona. Ah, anak sombong ini lagi. Entah sejak kapan ia mendengar pembicaraan kami.
“Hei Mona, biarlah kami tidak terkenal. Akan tetapi kami telah ikut melestarikan kebudayaan Indonesia” sahut Alin geram. Mona langsung membuang muka dan pergi dari hadapan kami. Tidak berapa lama Pak Dudu mendatangi kami. Ia terus memberikan semangat untuk berlatih lebih keras kepada kami. Alin dan Neng pun menceritakan mimpi-mimpi lucu yang dialami.
“Mimpi akan menjadi kenyataan jika Tuhan berkehendak. Teruslah menari untuk mimpi kalian. Teruslah bermimpi dan berjuang” tegasnya menyemangati kami. Kami sangat senang dengan kata-kata Pak Dudu itu.
“Kalian adalah orang-orang yang beruntung karena kalian akan mewakili sekolah untuk program misi budaya ke luar negeri” jelas Pak Dudu. Kami semua terkejut mendengar berita itu. “Kalian persiapkan dua minggu dari sekarang. Negara pertama yang akan kalian kunjungi adalah Jepang lalu ke Italia dan Kanada” tambah Pak Dudu.
Kami semua masih terdiam. Mimpi Alin dan Neng akan menjadi kenyataan. Kita akan manari di luar negeri. Kami pun memberikan kabar ke orangtua kami dan segera mengurus persiapan keberangkatan.
Hari-hari menjelang keberangkatan kami manfaatkan untuk berlatih. Kami tidak hanya mengharumkan nama sekolah namun juga negara tercinta. “Selamat yah, aku dan teman-teman meminta maaf atas perlakuan kami yang telah lalu” kata Mona yang datang tiba-tiba. Mona dan teman-teman yang lain pun mengatakan keinginannya mempelajari tarian Indonesia yang lain. Mereka juga ingin membanggakan daerah mereka masing-masing.
Inilah kebahagiaanku yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mendapatkan sahabat-sahabat baru lewat sebuah kecintaan terhadap budaya yang ada di Indonesia.
-Maret 2011-

Perjalanan si Cinta
(Dwi Nurcahyo)

Perjalanan cinta itu seperti mendaki gunung
Banyak aral melintang
Tantangan dan ujian
Mungkin seperti badai angin dan hujan
Jalur yang berliku dan bercabang
Membentang dan menjadi sarapan yang menyengsarakan hati dan fisik
Namun semua akan terasa mesra
Jika tapak-tapak kai ini terus terukir dalam pijakan tanah
Perlahan namun pasti
Hingga tiba saatnya bertemu kepastian
Puncak yang membelah langit
Sebagai lambang cinta yang abadi
Tanpa dusta dan tiada penderitaan lagi

Kamar Bonyok, 23 September 2010

Muara Terakhir
(Dwi Nurcahyo)

Berat rasanya memikul cinta
Lebih berat dari batu koral yang menghempas air sungai
Beradu dalam perasaan dan keinginan
Entah hasrat kotor atau murni karena rasa sayang
Terus kujejaki rasa ini
Hingga melihat bara yang mungkin akan membuatku hangat
Atau mungkin malah terbakar
Aku terdiam di sudut bumi
Berpikir menggerus otak yang semakin kecil
Mencari jawaban yang tak kunjung muncul
Mencari kenyataan lain yang mungkin juga tiada di dunia ini
Nasib terburuk siap di pikul
Nasib baik siap dituntun
Mengelilingi perjalanan cinta
Hingga menetap pada sebuah jawaban hidup
Cinta suci dan kotor selalu bersahabat
Dan mereka akan tetap berlabuh di muara cinta sejati
Kamar Sempitku, 23 September 2010

Gede Mount (My Home)

Balada Mata dan Suara hati
(9 Desember 2010, oleh Dwi Nurcahyo)

1. Pria :
2. Wanita* :
3. Pengamen :
4. Waria 1 :
5. Waria 2 :
6. Tukang sate :
7. Satpol PP :
8. Anak Gelandangan* :
9. Gelandangan Bule* :
10. Pelajar 1 laki-laki :
11. Pelajar 2 perempuan* :
12. Penari latar pengamen* :
13. Preman 1 :
14. Preman 2 :
15. Haji Somat :
16. Sahabat Pelajar 2 :

Panggung menggambarkan sebuah taman yang sepi, di taman tersebut terdapat 2 pohon besar dan beberapa bangku taman. Taman tersebut sangat indah, terkadang beberapa pejabat singgah untuk sekadar menikmati pemandangan. Namun taman tersebut lebih sering ditinggali oleh para gelandangan dan kaum marjinal lainnya.
Di taman tersebut terlihat orang yang sedang berpacaran, kemudian mereka duduk pada suatu bangku. Mereka sangat mesra. *musik gerimis by benyamin*
Pria : beby, kalau sedang duduk berdua dengan kamu, aku seperti sedang bersama bidadari tanpa sayap dech.
Wanita : (sambil malu2), Ah masa ci Bang, aku jadi terharu mendengarnya.khiikhihikkkk (tertawa jelek)
Pria : Benar beib, bahkan ketika aku makan, di meja makanku ada kamu, ketika aku sedang tidur di mimpiku ada kamu, ketika aku mencuci baju, di ember terlihat wajah kamu. Bahkan . . . bahkan . . .
Wanita : Bahkan apa bang ?
Pria : hehe… aku lagi pupz, juga terbayang wajah kamu.
Wanita : (Cemberut) maksud abang, wajahku ada di jamban. Huft
Pria : Bukan begitu cintaku, tapi wajah kamu Cuma terbayang saja dalam angan-anganku.

Seorang pengamen tiba-tiba datang menghapiri dan bernyanyi di depan pria dan wanita tadi. *gali lubang by Rhoma irama*

Pengamen : Assalamualaikum, dengan rahmat Alloh SWT, maka saya masih diperkenankan hidup, dengan izin Alloh pula saya masih bisa diperkenankan untuk bernyanyi, dengan izin Alloh pula anda bisa mendengar suara merdu saya…terrrlalu..(Gaya Rhoma Irama),
Tiba-tiba seorang dua orang waria pun datang menhampiri pengamen yang belum sempat bernyanyi itu.
*Music Pretty Woman*, kedua waria itu bergaya seperti di peragaan busana. Lalu marah kepada pengamen
Waria 1 : (sambil menarik baju si pengamen), heh Japra udah berkali-kali dirimu akika peringatin tapi masih aja lu ngambil lahan akika (suara keras)
Waria 2 : Heh kumis kucing, dirimu gak sadar diri yee, 2 tahun akika sama dince sudah menguasai tempat ini. Akika laporin ke komisi perlindungan waria baru tahu rasa!
Pengamen : Weits. . .sabar dulu bang, eh maksudnya mba. ane juga punya lahan dong di sini, karena ane sudah lama tinggal di sini. Bahkan engkong ane yang pedagang kurma dari arab, sudah berjualan 100 tahun yang lalu di tempat ini. Ente jangan kufur. . .
Waria 2 : eh banci, jangan banyak cincong luh. Kalau Cuma bicara nenek moyang mah akika lebih lama, dirimu tahu fir`aun?, nah kalau mau tahu kakek kita pernah tetanggaan sama dia.
Waria 1 : sudah gini aja, mending kita tanya sama mba dan mas ini mau melihat penampilan siapa.
Pria dan wanita kemudian coba berdiskusi.
Pria : begini saja mas-mas, eh maksudnya mas dan mba. Kami akan memberikan upah hiburan jika di antara kalian bisa performance paling baik.
Wanita : ya, kami mempersilahkan kalian unjuk kebolehan. Yang baik menurut kami akan kami beri uang, bagaimana?
Pengamen : Oekeh… siapa takut, bagaimana kalian ?(bertanya ke waria)
Waria 1 & 2 : (saling berhadapan, lalu berteriak keras) Siap !!!

Tukang sate madura masuk panggung. Sambil berteriak sateeee padang. Sateeee padang.
Pria : oke kalau begitu sekitar 5-10 menit silahkan kalian datang kemari lagi. Kalian boleh latihan dulu.ok
Waria 1 : eh dince kita mesti menang nanti apa lagi kita sudah punya bakat sejak lahir.hihi
Waria 2 : iya bener dance, btw bakat apa maksud kamu yang kita miliki sejak lahir?
Waria 1 : ya bakat akting jadi waria.hahah
Waria 2 : Embeeeeer boooo. (para waria meninggalkan panggung)
Pengamen : haha dasar banci kaleng, ente semua bahlul. Hidup memang perlu sebuah bakat. Dengan bakat kita bisa berkarya sekaligus menghasilkan uang. Hidup dengan kecerdasaan saja tidak akan menarik tanpa sebuah bakat. Dengan gitar dan suara emas ini aku akan kalahkan banci-banci itu. (keluar panggung)

Wanita : Cak, sate padangnya satu ya…
TKG sate : wwaaduh, ppenglaris ini dek, spesial pokoknya untuk adek dan mas ini taiye.(dengan logat madura)
Pria : ngomong2 anda orang madura tapi kenapa jual sate padang yah?
TKG sate : nah ini taiye, pertanyaan yang buagus dek. Kita ini adalah negara dengan suku bangsa terbanyak di dunia. Oleh sebab itu kita pun mesti mencintai daerah lain, contohnya saya ini dek. Orang madura tapi jualan sate padang. Atau kalau perlu kita bikin nama-nama baru misalnya pempek papua, gudeg ambon, atau jenis buah lainnya, Misalnya kita sering mendengar jeruk bali, bisa juga kita keluarkan produk baru seperti salak medan, durian banten, kerakketek, eh maksud saya kerak telor khas maluku, dll.
Wanita : wah bapak memang orang Indonesia sejati ya.

*Musik ‘jangan menyerah’ by D’masiv* Datanglah seorang anak kecil dan ibunya yang buta. Mereka lapar dan meminta sedekah. Pria dan wanita yang sedang pacaran tadi bertanya-tanya kepada kedua orang itu. Semua pemain Slow motion*
Anak : bu. . . kasiani kami bu, dari kecil belum makan bu. Bu aku mau makan bu (sambil memegangi perut)
Wanita : kamu lucu ya, masa dari kecil tidak makan kamu sudah sebesar ini.
Ni makan sate aku dulu yah, ibu kamu kasih juga yah.
Ibu pengemis : thank you very much, (ngomong inggris)
TKG sate : loh…kenapa sampean bisa bahasa orang kulon taiye. Eh maksudnya orang-orang barat. Saya saja baru menguasai 2 bahasa.
Pria : wah hebat sekali, bahasa apa sajakah itu cak?
TKG sate : yang pertama jelas bahasa Indonesia, nah yang kedua ya bahasa Madure taiye.hehe (sambil bakar sate)
Anak : ya, Ibu ini sebenarnya adalah gelandangan yang nyasar ke Indonesia. ia berasal dari Inggris. ia dengar di negara ini ada undang-undang yang mengatur bahwa “Anak terlantar dan pengemis dipelihara oleh negara”, namun ternyata itu semua bohong! (sambil makan) kemudian aku terbiasa hidup dengan mrs.baggy ini sehingga perlahan aku bisa cas-cis-cus inggris.
Ibu Pengemis : yes, i agree. Cause . . . (ngoceh bahasa inggris)
Anak : Thanks for your explain Mrs. Baggy, are you oke in here?. Aku sendiri adalah anak yatim piatu yang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.hiks hiks (lebay). Aku pun terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya.
Ibu pengemis : you should be patient, cause. . . (ngoceh inggris lagi)
Tukang sate : (marah) sudahlah bu, bahasa kulon ibu bikin saya pusing kepala, tak celurit sampean nanti.
Ibu Pengemis : dont angry with me, cause. . .(ngoceh inggris lagi)
Wanita : sudah pak madura, biarkan anak ini saja yang menjelaskan. Kan ada program pemerintah yang disebut BOS. Kenapa kamu tidak mendaftar?
Anak : itu hanya teori, bayangkan saja bu, kebanyakan orang-orang mampu yang mendapatkan Bos. Perekrutannya pun tak akan sampai ke orang-orang seperti kami. Seakan-akan orang-orang sana menutup mata ke arah kami.
Ibu pengemis : yaa, keadaan itu pun sangat timpang juga dengan sekolah-sekolah swasta yang memungut bayaran tanpa batasan. Banyak sekolah-sekolah berstandar internasional yang malah membuat kacau proses pembelajaran. Asal kalian tahu bahasa orang indonesia itu dikenal dengan tiga jenis, yang pertama B1 adalah bahasa daerah mereka masing-masing, B-2 adalah bahasa Indonesia itu sendiri, dan B-3 adalah bahasa asing, ya contohnya seperti bahasa Inggris itu. Belajar dengan pengantar bahasa indonesia saja banyak murid yang masing GOBLOK,
Semua pemain (tercengang mendengar Mrs.baggy berbahasa Indonesia)

Tkg sate : bu abu, payah sekali sampean ini, kalau tahu, kenapa tidak dari tadi saja berbahasa indonesia.
Ibu pengemis : haha, saya Cuma mau menunjukan bahwa saya adalah geladangan bule, aku dengar orang Indonesia masih mendewakan orang-orang berkulit putih. Tanpa kalian sadar itulah mindset bodoh yang sebenarnya diwariskan oleh bangsa Belanda. Sehingga sampai saat ini jika orang Indonesia melihat bule, berkatalah ia “wuih bule, gila cing”.hehe
Anak : ya, sebelumnya pun aku sempat kaget dengan Mrs.Baggy ini. Karena aku baru pertama kali bertemu dengan bule. Namun aku baru sadar, apa bedanya kita orang Indonesia dengan dia. Bahkan kata dia, orang Indonesia sebenarnya bisa lebih pintar jika mau terus belajar. Ngomong-ngomong, terimakasih y bu makanannya, kami mau melanjutkan mengemis.
(Ibu dan Anak pengemis meninggalkan panggung)

*Musik pengiring Intro ‘Ruby Soho’ by rancid’* Kemudian waria dan pengamen masuk ke dalam panggung untuk menampilkan aksi mereka di depan pria dan wanita yang berpacaran tadi.
Waria 1 & 2 : yuuuuuhhhhuuuuu. Kita dateng lagi neek.
Wanita : loh kalian Cuma berdua, dimana si pengamen arab tadi?
Waria 2 : yah, neng. Kaya gak tahu orang Indonesia aja. Jamnya aja merk eropa. Tapi tetep jarumnya karet. Jadi semua serba karet.
*beberapa menit kemudian datanglah si pengamen.
Pengamen : Assalamualaikum, terrrlalu. Tadi ane tertangkap Satpol PP, untung ane punya uang lebih. Akhirnya bisa damai dan ane bisa bebas.
Wanita : ya sudah, sekarang tunjukanlah kemampuanmu dulu, setelah itu baru kemampuan dua mba-mba ini (menunjuk ke arah kedua waria)
Pengamen : sebelumnya boleh saya dibantu oleh Backing Vokal sekaligus penari latar saya?
Pria : wah hebat juga ya, pengamen punya Crew juga. Oke baiklah.
Pengamen : Priuuit (membunyikan dengan jari)… prikitiwwwww

*Musik terdengar, diikuti seorang gadis bermasker ala penari arabian yang muncul dari belakang panggung. Kemudian mereka bernyanyi dan menari dengan ekspresi yang sangat lebay, namun ekspresif. Hingga lagu berakhir. *Andeca-andeci by warkop*

Wanita : Waww penampilan yang cukup menghibur sekali. Aku sangat suka bang dengan penampilan pengamen ini.
Pria : weitsss tunggu dulu beibs, kita belum melihat penampilan dari mba-mba ini, beri kesempatan kepada mereka dulu.
Wanita : oh ya, ya sudah, silakan mba anda berdua bisa tampil
Waria 1 : yey penampilan kaya gitcu mah payah (menunjuk ke pengamen), nenek bunting juga bisa kaleeeee.
Waria 2 : dince, mang nenek bisa hamil yakz?
Waria 1 : ya elah dipikirin lagi, akika juga gak tahu.hehe ya udah kita performance yukk.

*Jangan Lebay by T2* Musik dimainkan, Dince dan Dance melakukan lipsing, seperti yang di lakukan Shinta dan Jojo di Dunia maya. Mereka terus berekspresi sampai pada batas kewajaran. Sampai pada akhirnya musik berakhir, tiba-tiba datanglah seorang POL PP, terdengar pluit yang makin lama makin keras. Pengunjung taman pun seketika berlarian dan bubar. Taman menjadi sepi.

Prrriiiitt…..priiittttt….priiitttt
Pol PP : Hey jangan lari, hey jangan lari kalian. . .

Pol PP : waduwh. . .susahnya jadi aparat penegak hukum dengan level seperti saya ini. Serba salah. Tugas saya menertibkan anak jalanan, pedagang, pengamen, dll. Tetapi sebenarnya hati ini sangat berat menjalaninya. Bagaimana tidak, mereka semua butuh makan untuk hidup. Kalau ditangkap dan dikenakan denda bagaimana dengan hidup mereka kelak?. Bukankah ini melanggar HAM. Katanya Negara ini sangat melindungi HAM. Bahkan sudah ada KOMNAS HAM. Namun sebenarnya banyak hal yang berbenturan dengan peraturan pemerintah yang ada saat ini.
Banyak hal juga yang berbenturan dengan sisi keagamaan. Contohnya, apakah kalian semua tahu peraturan tentang larangan memberi sedekah di jalanan. Katanya yang memberi dan si pengemis akan di kenakan sanksi tegas. Apapun alasannya peraturan itu sebenarnya hanya sebelah pihak. Agama apapun menyarankan kita saling memberi dan mengasihi terhadap orang yang kurang mampu seperti para pengemis dan anak gelandangan.
Namun apa daya, kalau aku tidak bekerja sesuai dengan perintah atasan pasti aku akan dipecat. Anak istriku mau makan apa. Semua memang serba salah dan bersalah.
*tiba2 Pol PP itu melihat ada beberapa orang pelajar yang tawuran, beberapa orang terlihat berlarian ke arah taman. Pol PP itu mengumpat.

Pol PP : wah sepertinya ada yang tawuran, awas saja akan kuperangkap dia disini. (sambil berjalan ke belakang panggung)

Pelajar : Woy maju luh, sini luh kalo berani. Sini. . . (sambil menggeolkan pantat dan mencoba memancing amarah) sini woy kalau berani, jangan Cuma disitu. Gw bilangin bapak gw luh. (batu berterbangan setiap ia berbicara). Hah payah tuh sekolah, beraninya rame-rame. Gw dunk sendiri. Tapi bukannnya berani juga karena emang temen-temen gw aja yang pada kabur lewat jalan lain. Jadi keliatannya gw sendiri. Kalau di sekolah, gw sering dipanggil pentolan. Pentolan itu istilah yang dipakai untuk para jagoan. Banyak wanita yang tergoda sama ketampanan gue. Bukan apa-apa emang udah terlajur ganteng. Makanya kadang juga sering dipanggil bang ganteng.
Kemudian masuklah seorang Pelajar wanita cantik. Yang duduk disebuah bangku taman. Kemudian pelajar pria itu mencoba menggodanya. Gadis itu tersenyum malu-malu, kemudian terdengar *musik Justin Bieber “Baby”*
Pelajar 1 : (sambil sisiran), neng ikut abang dangdutan nyok.
Pelajar 2 : idiih najong luh. Najis…
Pelajar 1 : maksudnya boleh kenalan gak nih? Aye itu orang ganteng nomor 13 di kampung aye loh.
Pelajar 2 : (senyum) ganteng nomor 13?, pasti sial mulu yah. Atau kamu pemuda di kampung kamu memang Cuma 13?, itu artinya kamu urutan terakhir.
Pelajar 1 : ah neng bisa aja. Kenalin nama aye Steve japra (baca: setip japra) aye sekolah di SMA Banzai.
Pelajar 2 : haha steve kali, nama aku Rika. Aku sekolah di SMA Internasional
Pelajar 1 : haha nama neng lucu juga, kalau udah ibu-ibu pasti neng dipanggil orang marah. Misalnya ada tukang ojek manggil, “Bu Rik, Bu Rik ojek kagak?”
Pelajar 2 : (jutek)
Pelajar 1 : Neng boleh tanya gak, neng punya obeng kagak?
Pelajar 2 : obeng?, mana punya! (jutek)
Pelajar 1 : kalau nomor telepon pasti ada dunk,hehe (menggoda)
Pelajar 2 : iiihh gombal banget deh kamu (sambil ketawa pelit)
Pelajar 1 : oh ya rik, eh maksudnya ka. Bapak kamu itu tukang odong-odong ya?
Pelajar 2 : bukan, kamu sok tahu deh.
Pelajar 1 : Kok sejak ketemu kamu tadi, kamu terus berputar-putar di hatiku seperti tukang odong-odong.(sambil merayu)
Pelajar 2 : haha…kamu lucu banget cii.
Pelajar 1 : Oh ya, jangan-jangan orang tua kamu tukang gali sumur ya?
Pelajar 2 : iihhh. . .bukan, kamu makin ngasal deh.
Pelajar 1 : kok sejak bertemu kamu, hatiku telah tergali oleh pesonamu.he
Pelajar 2 : Gomballl abiieees deh kamu. Oh ya, kamu melihat seorang anak kecil pengemis dengan wanita sedikit tua tidak?
Pelajar 1 : oh ya, aku pernah ketemu dengan dirinya. Dia sangat pintar bahasa inggris dan bernyanyi. Tapi sayang dia putus sekolah.
Pelajar 2 : iya benar sekali, padahal katanya pemerintah menjamin pendidikan anak-anak bangsa. Tapi mana buktinya. Masih banyak anak-anak yang putus sekolah.
Pelajar 1 : keadaan ini timpang dengan sekolah-sekolah yang memungut biaya sekolah terlalu tinggi. Seakan-akan pendidikan adalah bisnis dan menganut sistem komersialisme. Padahal sekolah-sekolah mahal itu pun belum tentu menyelenggarakan pendidikan yang mumpuni.
Pelajar 2 : Selain konyol ternyata kau punya pendapat yang cerdas yah. Kita sekolah sebenarnya tidak cukup mencapai sebuah kecerdasan, namun seorang siswa harusnya mempunyai skill atau bakat yang bisa mendukung kemandiriannya kelak. Mungkin kita mesti berkaca pada pengemis itu.
Pelajar 1 : ya benar sekali, anak itu punya bakat dalam bidang kemampuan bahasa inggris dan di dukung dengan kemampuan menyanyi yang baik. Pasti masa depannya akan cerah sayangnya ia tidak bisa bersekolah.

*Kedua pelajar itu kemudian saling pandang kemudian mereka mulai saling jatuh cinta, pelajar 1 lipsing musik ‘Nuansa bening by Vidi Aldiano’. Sebelum lagu selesai
Tiba2 Satpol PP yang tadi bersembunyi dibelakang keluar dan menyergap pelajar pria yang tadi sempat tawuran dengan pelajar lain.

Satpol PP : Yupzzz, ketangkap kau, tadi kamu tawuran ya. Ayo ikut ke kantor petugas.
Pelajar 1 : Lepaskan, lepaskan. (sambil memberontak)
Satpol PP : (kaget) hahh. . . kamu jang?, kenapa kamu ada di sini dan mengapa kamu tawuran, ayah tidak menyangka jadi selama ini kerjaan kamu itu tawuran dan pacaran. Siapa wanita ini?
Pelajar 1 : hah ayah, ini teman baru ujang namanya Rika. ujang tadi gak tawuran yah, Cuma iseng-iseng aja lempar batu.
Satpol PP : yeee, dasar malah ngeles kamu. Jelas-jelas kamu sudah tertangkap basah.
Pelajar 1 : maaf yah, ujang janji deh tidak ikut-ikutan tawuran lagi.
Pelajar 2 : hahh. . . maaf om, dia benar namanya ujang? (bertanya ke Pol PP), dia mengaku kepada saya kalau dia bernama Steve Japra.
Satpol PP : tuh kan, neng ni kena tipu sama dia, nama aslinya Ujang Van Japra yang benar. Ayo anak bandel pulang, tidur siang.
*Satpol PP itu menjewer telinga si Ujang dan membawanya keluar panggung. Pelajar wanita pun akhirnya sendirian. Takberapa lama kemudian masuklah 2 orang preman setempat membawa botol minuman keras. Mereka terkenal menguasai daerah tersebut. Kedua preman itu kemudian mencoba meminta barang berharga dari pelajar wanita tadi. Kedua preman itu masuk diiringi lagu Reggae *‘Musik Reggae ini’ by GangstaRasta*

Preman 1 : (sambil mabuk) gile bener dah ni arak, minumnnya kemaren malem, eh maboknya sekrang.
Preman 2 : yooomann sob, kitakan Bro (tertawa). Hidup Cuma sekali jadi jangan disia-siakan bro. Rastaman kaya kita Cuma ngebaks (istilah ngeganja) and mabok aja. Sisanya ya malakin duit buat makan.ha
Preman 1 : (Melihat pelajar 2) wuuiiidihh peyem tu bro.
Preman 2 : peyem? Makanan dari Bandung maksudnya. Dimana? Kebetulan laper banget ni bro.
Preman 1 : bukan bro, tapi maskud gw ada mangsa tuh peyeumpuan. Masih pulen tuh kayannya.hehe kayannya keliatan orkay tuh, alias orang kaya.
Preman 2 : owkeeeh sooobb, kitakan Brow. Kita sikat aja tu barangnya.

*Menghampiri pelajar 2. Terjadi adegan yang menegangkan. Musik *’Amplifier by Seringai’* Karena preman itu menarik-narik tas yang di bawa pelajar 1. Pelajar itu pun teriak-terika minta tolong. Tak berapa lama kemudian muncullah seorang ulama yang tersohor di kota itu. Ia kemudian mencoba menghentikan kejadian menegangkan itu.

Haji Somat : Asslamualaikum, maaf ente berdua agamannya apa?
Preman 1 : siapa luh, kita berdua punya KTP Islam. Mau apa emang?
Haji Somat : Astagfirulloh. . . ente berdua sadar atau tidak. Mengambil barang yang bukan haknnya itu adalah perbuatan yang tercela dan menimbulkan dosa. Dalam Al-Quran pun terang-terang dijelaskan. Apalagi kalian berdua adalah islam. Janganlah kalian hanya islam KTP, tapi tegakkanlah islammu itu.
Preman 2 : Ah buanyak omong luh haji gila!, mending lu lawan kita berdua. Kalau lu berhasil ngalain kita berdua. Kita berdua janji dah bakal berubah.hehe tapi kalau lu yang kalah siap-siap aja luh pindah agama.haa
Haji Somat : Astagfirulloh. . . biarfun ane kalah dengan kalian, nae tidak akan pindah keyakinan
Preman 1 : ah banyak omongluh. . .(melakukan serangan)
*Diiringi musik ‘No Control’ by Bullet For My Valentine’. Akhirnya perkelahian pun berlangsung seru antara kedua preman itu (*Musik tegang atau keras). Perkelahian iru sempat berimbang, terkadang pertempuran itu dengan gerakan lambat seperti di Film. Namun atas Izin ALLOH SWT. Pak Haji Somat berhasil mengalahkan kedua preman tersebut. Kedua preman itu pun lari terbirit-birit. *Diiringi musik ‘No Control’ by Bullet For My Valentine’
Haji Somat : Alhamdulillah (menghela nafas).
Pelajar 2 : Terimakasih Pak Haji, mudah2an apa yang dilakukan Pak Haji pada hari ini bisa mendapat balasan dari ALLOH SWT.
Haji Somat : Amiiin ya Robballalamin. Sekarang pulanglah dan hati-hati di jalan.
Pelajar 2 : baik pak Haji terimakasih. (berjalan pulang, keluar panggung)
Haji Somat : Astagfirulloh, masih banyak sekali permasalahan moral di bangsa ini. Jika kita terus begini kita akan menjadi bangsa yang terpuruk dan penjajahan dalam bentuk yang lain akan merajalela. Bagaimana nasib anak cucu kita, bagaimana kehidupan mereka kelak?. Siapa yang bisa mengubah ini semua. Bukan pemerintah, tapi mulailah merubah prilaku diri kita sendiri. Jangalah terlalu pusing dengan urusan orang lain, janganlah terlalu ikut campur dengan urusan orang. Berkacalah pada diri kita sendiri. Sesungguhnya apa yang sudah kita perbuat akan mendapat balasannya suatu hari nanti. Semoga semua akan memaknai hidup ini lebih bijaksana dan arif. Wassalamualaikum. (keluar meninggalkan panggung) *TAMAT*