Penantian ke dua di Gede

Sejuta kenangan
Sejuta kasih
Dan sejuta keindahan

Air terjunmu dengan riak airnya
Bersenda gurau dalam sepi dengan danau telaga warnamu
Lalu tapak kaki ini terhenti dalam hangatnya air panas di bebatuanmu
Lepaslah lelah dan dahaga terbawa uap-uap yang mengepul
Setelah itu…
Lelah dan lelah kutemui kembali
Tibalah di pengagunganmu yang curam
Tanjakan setan yang kau sebut lebih dari sekadar setan
Kujejaki dalam susuran cantigimu
Tibalah…
Aku dalam dekap kawahmu yang angkuh
Berdri sombong tebingmu dalam jejak-jekaku yang kecil
Penuh harap…
Penuh luka…
Tapi terlalu nikmat jika kulihat lembah surya kencanamu
Tempat roh-roh bala tentara prabu surya kencana yang abadi,
dengan kuda-kuda tunggangannya
Nafsu binatang mereka berbaur dengan harum abadi edelweismu
Aku terperangkap sunyinya
Hingga angin yang berhembus bercampur kabut-kabut itu berbicara
Soal cinta, kasih sayang, dan penderitaan

Gunung Gede, 25 desember 2007 – Dwi Nurcahyo