Tarian Mimpi
(Cerpen Anak-anak)
Oleh Dwi Nurcahyo, S.Pd

Ini hari pertamaku di sekolah yang baru. Aku siswi pindahan dari sebuah sekolah di Padang. Sekolahku hancur karena gempa. Mama memilih untuk pindah ke Jakarta. Aku berharap hari ini menjadi hari yang menyenangkan.
“Hai, kamu anak baru ya?”, tanya dua anak perempuan mengagetkanku. “Iya, namaku Lisa, siapa nama kalian berdua?” tanyaku. “Panggil aku Neng saja dan ini Alin”
Setelah perkenalan itu, aku banyak bertukar cerita dengan Neng dan Alin. Ternyata mereka berdua mempunyai hobi yang sama denganku. Neng dan Alin terlihat sangat bahagia mendengar hobiku menari.
“Wah kita akan mempunyai teman senasib” tegas Neng. “Ya benar, semoga kamu betah selalu diremehkan di sekolah ini” tambah Alin. Aku semakin tidak mengerti dengan pernyataan kedua temanku itu. Namun aku tidak sempat menanyakannya karena bel sekolah telah berbunyi.
Di kelas aku terlihat sangat canggung. Untung saja aku sudah mengenal Alin dan Neng. Tak berapa lama seorang guru datang. Ini pasti Pak Dudu yang baru diceritakan Alin tadi.
“Anak-anak, hari ini kita punya teman baru, pindahan dari sekolah di daerah Padang. Lisa silahkan perkenalkan diri kamu di depan kelas” kata Pak Dudu. Aku kemudian melangkah agak kaku. Jantungku berdebar cepat. Keringatku mulai terasa bercucuran
“Lisa silahkan perkenalkan nama, hobi, dan moto hidupmu” tegas guru baruku itu.
Aku coba menghela nafas dan coba tegar. “Selamat pagi teman-teman. Namaku Lisa Pradana, hobiku adalah menari Piring”
Belum sempat aku menyebutkan moto hidupku, namun hampir semua teman-temanku di kelas menertawakanku. Kecuali Alin dan Neng. Aku mulai bertanya-tanya. Apakah ada pernyataan aneh yang tadi kuucapkan.
“Hei Lisa, jauh-jauh kamu pindah sekolah, eh hanya punya hobi kampungan” jawab Mona, ketua kelas di kelasku. Nyaliku seketika ciut. Namun Pak Dudu tetap menyuruhku menjelaskan moto hidupku. Aku coba kembali tegar.
“Moto hidupku adalah capailah mimpi dan cita-cita dengan berusaha keras dan berdoa” kataku. Suasana di kelas tetap ramai dengan tawa. Hari itu menjadi ujian bagiku
Setelah jam sekolah berakhir, aku bertanya banyak tentang sekolah baruku itu. Ternyata di sekolah ini ekstrakurikuler favorit adalah drumband dan modern dance. Kedua ekstrakurikuler itu sering memenangkan lomba. Tari tradisional yang akan kupilih sangat jarang peminatnya, hanya Alin dan Neng. Namun Alin dan Neng tetap semangat berlatih agar bisa membanggakan sekolah. Aku pun pulang dengan semangat dari perkataan kedua temanku itu.
Waktu terus berjalan. Tidak terasa enam bulan sudah aku menimba ilmu di sekolah baruku. Alin dan Neng pun sudah menjadi sahabat terdekat. Kami selalu menyempatkan waktu berlatih menari bersama.
“Aku akan membanggakan kota Jakartaku dengan Tari Topeng ini” tegas Alin saat berlatih. “Aku akan membanggakan masyarakat Jawa Barat, khususnya daerah Bandung dengan Tari Jaipong ini” kata Neng tidak kalah semangat. Aku pun tidak mau kalah, “Dengan Tari Piring ini aku akan bangga jadi orang Padang”.
Setelah latihan kami beristirahat sambil berbagi cerita. Alin menceritakan mimpinya yang sangat indah. Ia bermimpi menari Topeng di depan menara Pizza Italia. Sedangkan Neng bermimpi sangat unik dan cukup lucu. Ia bermimpi mengajari orang-orang Jepang menari Jaipong. Mimpi mereka terjadi karena doa yang mereka ucapkan sebelum tidur. Mulai sekarang, aku pun akan selalu berdoa sebelum tidur.
“Haha, dasar anak-anak kampung. Bermimpi terlalu berlebihan. Modern dance dan drum band tetap akan menjadi favorit di sekolah ini” sahut Mona. Ah, anak sombong ini lagi. Entah sejak kapan ia mendengar pembicaraan kami.
“Hei Mona, biarlah kami tidak terkenal. Akan tetapi kami telah ikut melestarikan kebudayaan Indonesia” sahut Alin geram. Mona langsung membuang muka dan pergi dari hadapan kami. Tidak berapa lama Pak Dudu mendatangi kami. Ia terus memberikan semangat untuk berlatih lebih keras kepada kami. Alin dan Neng pun menceritakan mimpi-mimpi lucu yang dialami.
“Mimpi akan menjadi kenyataan jika Tuhan berkehendak. Teruslah menari untuk mimpi kalian. Teruslah bermimpi dan berjuang” tegasnya menyemangati kami. Kami sangat senang dengan kata-kata Pak Dudu itu.
“Kalian adalah orang-orang yang beruntung karena kalian akan mewakili sekolah untuk program misi budaya ke luar negeri” jelas Pak Dudu. Kami semua terkejut mendengar berita itu. “Kalian persiapkan dua minggu dari sekarang. Negara pertama yang akan kalian kunjungi adalah Jepang lalu ke Italia dan Kanada” tambah Pak Dudu.
Kami semua masih terdiam. Mimpi Alin dan Neng akan menjadi kenyataan. Kita akan manari di luar negeri. Kami pun memberikan kabar ke orangtua kami dan segera mengurus persiapan keberangkatan.
Hari-hari menjelang keberangkatan kami manfaatkan untuk berlatih. Kami tidak hanya mengharumkan nama sekolah namun juga negara tercinta. “Selamat yah, aku dan teman-teman meminta maaf atas perlakuan kami yang telah lalu” kata Mona yang datang tiba-tiba. Mona dan teman-teman yang lain pun mengatakan keinginannya mempelajari tarian Indonesia yang lain. Mereka juga ingin membanggakan daerah mereka masing-masing.
Inilah kebahagiaanku yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mendapatkan sahabat-sahabat baru lewat sebuah kecintaan terhadap budaya yang ada di Indonesia.
-Maret 2011-