PUISI AHMADUN YOSI HERFANDA

 

Ahmadun Yosi Herfanda

 Image

 

DI BAWAH LANGIT MALAM

 

kucium kening bulan

dalam sentuhan dingin angin malam

ayat-ayat tuhan pun tak pernah bosan

memutar planet-planet dalam keseimbangan

 

langit yang membentang

menenggelamkanku ke jagat  dalam

kutemukan lagi ayat-ayat tuhan

inti segala kekuatan putaran

 

jagad yang menghampar

membawaku ke singgasana rahasia

pusat segala energi dan cahaya

membebaskan jiwa

dari penjara kefanaannya

 

kucium lagi kening bulan

engkau pun tersenyum

dalam penyerahan

 

Purworejo 1983        

    

 

NYANYIAN KEBANGKITAN

 

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

Di antara pahit-manisnya isi dunia

Akankah kau biarkan aku duduk berduka

Memandang saudaraku, bunda pertiwiku

Dipasung orang asing itu?

Mulutnya yang kelu

Tak mampu lagi menyebut namamu

 

Berabad-abad aku terlelap

Bagai laut kehilangan ombak

Atau burung-burung yang semula

Bebas di hutannya

Digiring ke sangkar-sangkar

Yang terkunci pintu-pintunya

Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya

 

Berikan suaramu, kemerdekaan

Darah dan degup jantungmu

Hanya kau yang kupilih

Di antara pahit-manisnya isi dunia

 

Orang asing itu berabad-abad

Memujamu di negerinya

Sementara di negeriku

Ia berikan belenggu-belenggu

Maka bangkitlah Sutomo

Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo

Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro

Bangkitlah semua dada yang terluka

“Bergenggam tanganlah dengan saudaramu

Eratkan genggaman itu atas namaku

Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.”

 

Suaramu sayup di udara

Membangunkanku

Dari mimpi siang yang celaka

 

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

Di antara pahit-manisnya isi dunia

Berikan degup jantungmu

Otot-otot dan derap langkahmu

Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu

Atau mendobraknya atas namamu

Terlalu pengap udara yang tak bertiup

Dari rahimmu, kemerdekaan

Jantungku hampir tumpas

Karena racunnya

 

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

Di antara pahit-manisnya isi dunia!

(Matahari yang kita tunggu

Akankah bersinar juga

Di langit kita?).

Mei  1985/2008

 

 

 

 

MONOLOG SEORANG VETERAN

    YANG TERCECER DARI ARSIP NEGARA

 

Bendera-bendera berkibar di udara

Dan, orang-orang berteriak ‘’telah bebas negeri kita”

Tapi aku tertatih sendiri

Di bawah patung kemerdekaan yang letih

Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi

 

Kau pasti tak mengenaliku lagi

Seperti dulu, ketika tubuhku terkapar penuh luka

Di sudut stasiun Jatinegara, setelah sebutir peluru

Menghajarku dalam penyerbuan itu

Dan negeri yang kacua mengubur

Sejarah dalam gundukan debu

 

Setengah abad lewat kita melangkah

Di tanah merdeka, sejak Soekarno-Hatta

Mengumumkan kebebasan negeri kita

Lantas kalian dirikan partai-partai

Juga kursi-kursi kekuasaan di atasnya

  

Gedung-gedung berjulangan

Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan

Jalan-jalan layang, mengembang bersama

Korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,

Yang membengkakkan perutmu sendiri

Sedang kemiskinan dan kebodohan

Tetap merebak di mana-mana

 

Dan, aku pun masih prajurit tanpa nama

Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran

Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan

Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman

Tanpa istri simpanan

     

Meskipun begitu, aku sedih juga

Mendengarmu makin terjerat hutang

Dan keinginan IMF yang makin menggencet

Kebijakan negara.

Karena itu, maaf, saat engkau

menyapaku, “Merdeka!”

Dengan rasa sembilu

Aku masih menjawab, “Belum!”

Jakarta, 1998-2008        

 

 

RESONANSI INDONESIA

 

bahagia saat kau kirim rindu

termanis dari lembut hatimu

jarak yang memisahkan kita

laut yang mengasuh hidup nakhoda

pulau-pulau yang menumbuhkan kita

permata zamrud di katulistiwa

kau dan aku

berjuta tubuh satu jiwa

 

kau semaikan benih-benih kasih

tertanam dari manis cintamu

tumbuh subur di ladang tropika

pohon pun berbuah apel dan semangka

kita petik bersama bagi rasa bersaudara

kau dan aku

     berjuta kata satu jiwa

 

      kau dan aku

      siapakah kau dan aku?

   jawa, cina, batak, arab, dayak

   sunda, madura, ambon, atau papua?

   ah, tanya itu tak penting lagi bagi kita

   : kau dan aku

    berjuta wajah satu jiwa

 

ya, apalah artinya jarak pemisah kita

apalah artinya rahim ibu yang berbeda?

jiwaku dan jiwamu, jiwa kita

tulus menyatu dalam genggaman

burung garuda

 

Jakarta, 1984/1999

 

 

RESONANSI BUAH APEL

 

buah apel yang kubelah dengan pisau sajak

tengadah di atas meja. Dan, dengan kerlingnya

mata pisau sajakku berkata, ”Lihatlah, ada puluhan

ekor ulat besar yang tidur dalam dagingnya!”

 

memandang buah apel itu aku seperti

memandang tanah airku. Daging putihnya

adalah kemakmuran yang lezat dan melimpah

sedang ulat-ulatnya adalah para pejabat

yang malas dan korup

 

tahu makna tatapanku pisau itu pun berkata,

”Kau lihat seekor ulat yang paling gemuk

di antara mereka? Dialah presidennya!”

 

buah apel dan ulat

ibarat negara dan koruptornya

ketika buah apel membusuk

ulat-ulat justru gemuk di dalamnya

Jakarta, 1999/2003

  

SAJAK MABUK REFORMASI

 

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi

dalam pusingan anggur reformasi

menggelepar ditindih bayang-bayang diri

seember tuak kebebasan mengguyurku

membantingku ke ujung kakimu

luka-luka kepalaku, luka-luka dadaku

luka-luka persaudaraanku

luka-luka hati nuraniku

     

aku mabuk lagi, terkaing-kaing

di comberan negeriku sendiri. peluru tentara

      menggasak-gasakku, pidato pejabat

      merobek-robek telingaku, penggusuran

      menohokku, korupsi memuntahiku

      katebelece meludahiku, suksesi

      mengentutiku, demonstrasi mengonaniku

      likuidasi memencretkanku, kemiskinan

      merobek-robek saku bajuku

 

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi

menggelinding dari borok ke barah

dari dukun ke setan, dari maling ke preman

dari anjing ke pecundang, dari tumbal

ke korban, dari krisis ke kerusuhan

dari bencana ke kemelaratan!

 

aku mabuk lagi, mana maling mana polisi

mana pahlawan mana pengkhianat, mana

pejuang mana penjilat, mana mandor

mana pejabat, mana putih mana hitam

mana babi mana sapi, mana pelacur

mana bidadari, mana perawan mana janda

mana tuhan mana hantu? semua nyaris seragam

begitu sulit kini kubedakan

 

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi!

berhari-hari, berbulan-bulan

tanpa matahari

            Jakarta, Mei 1998/2007

 

 

 

 

INDONESIA, AKU MASIH

    TETAP MENCINTAIMU

 

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu

Sungguh, cintaku suci dan murni padamu

Ingin selalu kukecup keningmu

Seperti kukecup kening istriku

Tapi mengapa air matamu

Masih menetes-netes juga

Dan rintihmu pilu kurasa?

 

Burung-burung bernyanyi menghiburmu

Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu

Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?

Apakah kau tangisi hutan-hutan

Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?

Apakah kau tangisi hutang-hutang negara

Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?

Apakah kau tangisi nasib rakyatmu

Yang makin tergencet kenaikan harga?

Atau kau sekadar merasa kecewa

Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika

Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,

Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?

 

Ah, apapun yang terjadi padamu

Indonesia, aku tetap mencintaimu

Ingin selalu kucium jemari tanganmu

Seperti kucium jemari tangan ibuku

Sungguh, aku tetap mencintaimu

Karena itulah, ketika orang-orang

Ramai-ramai membeli dolar amerika

Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah

Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!

      Jakarta, 1997/2008

 

 

 

 

SEMBAHYANG RUMPUTAN

 

Walau kau bungkam suara azan

Walau kau gusur rumah-rumah tuhan

Aku rumputan

Takkan berhenti sembahyang

: inna shalaati wa nusuki

  wa mahyaaya wa mamaati

 lillahi rabbil ‘alamin

 

topan menyapu luas padang

tubuhku bergoyang-goyang

tapi tetap teguh dalam sembahyang

akarku yang mengurat di bumi

tak berhenti mengucap shalawat nabi

: allahumma shalli ‘ala muhammad

  ya rabbi shalli ‘alaihi wa sallim

 

sembahyangku sembahyang rumputan

sembahyang penyerahan jiwa dan badan

yang rindu berbaring di pangkuan tuhan

sembahyangku sembahyang rumputan

sembahyang penyerahan habis-habisan

 

Walau kau tebang aku

Akan tumbuh sebagai rumput baru

Walau kau bakar daun-daunku

Akan bersemi melebihi dulu

 

Aku rumputan

Kekasih tuhan

Di kota-kota disingkirkan

Alam memeliharaku

Subur di hutan-hutan

Aku rumputan

Tak pernah lupa sembahyang

: sesungguhnya shalatku dan ibadahku

  hidupku dan matiku hanyalah

  bagi Allah, tuhan sekalian alam

 

Pada kambing dan kerbau

daun-daun hijau kupersembahkan

pada tanah akar kupertahankan

agar tak kehilangan asal keberadaan

di bumi terendah aku berada

tapi zikirku menggema

menggetarkan jagat raya

: la ilaaha illallah

   muhammadar rasulullah

 

Aku rumputan

kekasih tuhan

seluruh gerakku

adalah sembahyang

 

Yogyakarta, 1992

 

 

 

 

CIUMAN PERTAMA

UNTUK TUHAN

 

Merendehkan diri di bawah telapak kaki

Dalam tahajud paling putih dan sunyi, akhirnya

Sampai juga aku mencium Tuhan. Mungkin kaki atau telapak

Tangannya – tapi aku lebih ingin mengecup dahinya

Duhai, hangatnya sampai ke ulu jiwa.

 

Inilah ciuman pertamaku, setelah berabad-abad

Gagal meraihnya dengan beribu rakaat dan dahaga

Tiada kecerdasan kata-kata yang bisa menjangkaunya

Tak juga doa dalam tipu daya air mata — Duhai Kekasih,

Raihlah jiwaku dalam hangatnya Cinta

 

Bertahun-tahun aku merindu, bagai Rabiah

Tiada lain kecuali merindu Engkau. Duhai Kekasih,

Tenggelamkan kini aku ke dalam cahayamu

Jakarta, Agustus 2003

 

 

 

 

CATATAN DINI HARI

: labuhan bilik, riau

 

Debur ombak dan goyang perahu

Bermain sendiri dalam sepi

Semua yang hidup tertidur

Melipat diri dalam mimpi

 

Bintang berkaca dalam sunyi

Sebait bulan yang menemaniku

Pun hendak undur diri

 

Bersama angin dini hari

Kucoba untuk bernyanyi

Mengirim rindu termanis

Sebelum bunuh diri

 

Bulan pun pergi

Dan perahu nelayan

Tak pernah kembali

Rokan Hilir, Maret 2007

 

 

 

 

 

CATATAN SENJA

DI JENDELA BUS KOTA

 

Selalu saja berkelebat bayangmu

Di antara kesiur angin, kepul asap dan debu

Tak ada bau parfum yang tersisa

Tak pula patahan helai rambutmu

Tapi di pojok jendela bus kota

Masih mekar juga senyum mawarmu

 

Kutahu, duniaku sekotor debu

Sehina ketombe yang sesekali mengusam

Pada kilau rambutmu

Tapi pada jantung sekecil debu

Ingin kubingkai luas cakrawala

Bagi kerling matamu

 

Pernahkah kau rasa juga

Semua yang kurindu?

Ah, kutahu, kutahu, ingatan itu

Telah terhapus jadwal rendesvous

Yang tak terjangkau sisa usiaku

Jakarta, Februari 2007

 

 

 

 

CATATAN SENJA

DI NEGERI KOTA

:  singapura

 

senja rebah di atap tampenis plaza

langit  mengatup, mendekap negeri kota

dalam remang cahaya. gerimis jatuh

dan kau tiba-tiba berkata,

 

— bergegaslah, hai, pengembara.

saat pemberangkatan segera tiba, ke negeri jauh

tempat sejarah melintas dan bermula.

 

dalam tergesa, aku jadi lupa

memungut dua helai rambutmu

yang tersisa di lipatan jendela plaza

(dengan mulut bau pizza, tadi sempat

kukecup keningmu di balik temboknya)

 

tak kuduga, harum parfummu terbawa juga

melintas benua, ke pelataran ayasophia

tapi, siapa aku mesti memanggilmu nanti

ketika langkahku sampai ke negerimu lagi

mei hwa, clara, atau aisah saja?

 

dalam dirimu, tionghoa, melayu, dan eropa

menyatu jadi bangsa yang begitu

menghargai makna kerja

Singapura, 1997/1999

 

 

 

 

 

DOA RINAI HUJAN

 

rintik hujan itulah

yang senantiasa menyampaikan

kasihmu padaku, dan ika-ikan

selalu mendoakan keselamatanku

jika kau tanya makna goyangku

goyangku zikir tersempurna

di antara para kekasih jiwa

angin mengusap bening air telaga

mengazaniku sujud ke pangkuannya

 

burung-burung itulah

yang selalu menyampaikan

salamku padamu, ketika angin senja

mengusap suntuk zikirku

jika kau tanya agamaku

agamaku agama keselamatan

jika kau tanya makna imanku

imanku iman kepasrahan

hidupku mengakar di jantung tuhan

sukma menyala menyibak kegelapan

 

pandanglah putik bungaku

nur muhammad mekar sepenuh jiwa

pandanglah daun-daunku

jari-jari tahiyat terucap

tiap akhir persembahan

zikirku zikir kemanunggalan

diri lebur ke dalam tuhan

Jakarta, 1998/2003

 

 

 

 

 

 

REINKARNASI

 

kukembalikan dagingku pada ikan

kuserahkan darahku pada kerang

makanlah milikku, ambil seluruhku

kukembalikan tulangku pada tripang

 

jika aku mati

hanya tinggal tanah

jiwaku membumbung

ke kekosongan

 

bertahun-tahun aku mengail

berhutang nyawa pada ikan

berabad-abad aku minum

berhutang hidup pada laut

berwindu-windu aku berlari

berhutang api pada matahari

tiba saatnya nanti kukembalikan

semua hutangku pada mereka

 

kukembalikan jasadku pada tanah

sukmaku kembali ke tiada

: zat pemilik segalanya!

Jakarta, 1992

 

 

 

 

 

AYAT-AYAT ALAM

 

berabad-abad wajah tuhan bertaburan

jadi ayat-ayat alam yang berserak pada batu-batu

tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda

berabad-abad wajah tuhan bertaburan

dalam serpihan cinta sekaligus sengketa

 

berabad-abad pula adam gelisah

mencoba menyatukan wajah tuhan

dalam gambaran seutuhnya. namun

selalu sia-sia ia. sebab, tuhan lebih suka

hadir dalam keelokan yang beraneka

 

pada keelokan pohon dan keindahan batu

pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung

pada wajah suci seorang bayi dan hangat matahari

dan pada wajah manis seorang istri

tuhan hadir dalam senyum abadi

 

berabad-abad wajah tuhan bertebaran

pada ayat-ayat alam yang selalu

menemukan tafsir sendiri

Jakarta, 1995/2007

 

 

 

 

JALAN RINDU

 

Di jalan manakah engkau kini menunggu

Kekasih. Begitu panjang jalan kutempuh

Tapi, tak sampai-sampai juga padamu

 

Berapa abad lagi aku mesti

Menahan nyeri hati tanpamu

Kutanggung sendiri berwindu rindu

Kutahan sendiri sepi tanpamu

 

Di manakah kini engkau menunggu

Kekasih. Setelah kutinggal khianat tanpamu

Tak tahu lagi kini alamat bagi rinduku

Masih terbukakah pintu untuk kembali

Ke satu cinta hanya padamu?

Jakarta, 2007

 

 

 

 

SAJAK EMBUN

 

hanya karena cinta embun menetes

dari ujung bulu matamu, membasahi

rumput dan daun-daun, lalu meresap

ke jantungku. cacing-cacing pun berzikir

padamu, mensyukuri kodratnya tiap waktu

 

siapa yang menolak bersujud padamu

yang tak bersyukur karena karuniamu?

barangkali hanya orang-orang congkak itu

orang-orang yang berjalan dengan kepala

mendongak ke langit sambil melirik

dengan cibiran harimau

 

hanya karena cinta hujan menetes

dari sudut pelupuk matamu, membasahi rambutku

menyusup ke pori-pori tubuh, syaraf dan nadi

menghijaukan kembali taman hatiku

burung-burungpun bernyanyi karenaku

berzikir dan bersujud padamu

— ya allah, ampuni adaku padamu!

Yogyakarta, 1990/2007

 

 

 

 

NYANYIAN SENJA

SEORANG PENCINTA

 

jika aku mati, luluhlah bagai air

menyusup tanah dan batu-batu

menumbuhkan pohonan di tamanmu

putik bunga pun bertemu benihku

membuahkan cintamu

 

jika kau haus, minumlah jiwaku

jika tubuhmu berdaki

mandilah dalam kasihku

ikan-ikan bahagia dalam asuhanku

kafilah gembira menemuku

 

tiadalah arti hidup jika sekadar hidup

tiadalah arti mati jika sekadar mati

jika hidup tiada sebatas hidup

jika mati pun tiada sebatas mati

(jika tak takut hidup jiwa pun tak takut mati

karena dalam mati jiwa menemu hidup sejati)

 

jika aku mati, luluhlah bagai air

menyusup akar belukar dan pohonan

katak-katak bahagia dalam sejukku

teratai pun tersenyum

dalam ayunan jiwaku

 

tiada makna hidup

jika tiada menghidupi

tiada nikmat hidup

jika tiada memberi arti

— jika engkau pelaut

layarkan perahumu

pada keluasan hatiku!

Yogyakarta, 1984/2007